Jakarta (KABARIN) - Memasuki bulan Ramadan, orang tua sering menantikan momen ketika anak mulai belajar berpuasa.
Psikolog klinis anak dan remaja dari Universitas Padjadjaran, Mariska Johana H, M.Psi., menekankan bahwa puasa sebaiknya dikenalkan sebagai proses perkembangan, bukan sekadar aturan.
“Puasa dapat dikenalkan sebagai latihan menunda keinginan, sarana membangun regulasi emosi, serta ibadah yang memiliki nilai spiritual dan manfaat kesehatan. Ketiga aspek ini saling terkait dan perlu dijelaskan secara bertahap sesuai usia anak,” kata Mariska kepada ANTARA, Sabtu.
Pengenalan puasa berdasarkan usia
Untuk anak prasekolah usia tiga hingga enam tahun, puasa dapat dipahami sebagai latihan menunggu dan bersabar, bukan kewajiban penuh. Anak diajak merasakan lapar sebagai sensasi yang datang dan pergi serta belajar bahwa tidak semua keinginan harus langsung dipenuhi.
Nilai spiritual diperkenalkan secara sederhana, misalnya bahwa belajar berpuasa adalah perbuatan baik yang disukai Allah. Fokus utama adalah pengalaman puasa yang aman dan positif.
Pada usia sekolah awal, tujuh hingga sembilan tahun, anak mulai memahami sebab-akibat. Puasa bisa dijelaskan sebagai latihan mengendalikan diri dan ibadah yang bernilai pahala.
“Anak diajak melihat bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan emosi, memperbaiki sikap, dan memperbanyak kebaikan,” ujar Mariska.
Nilai spiritual dikaitkan dengan perilaku nyata seperti bersabar, membantu orang lain, dan berbagi. Anak juga mulai diperkenalkan manfaat puasa bagi tubuh dan kebiasaan sehat.
Untuk anak usia sekolah akhir hingga remaja awal, sepuluh hingga dua belas tahun ke atas, puasa dipahami sebagai ibadah yang melibatkan niat, kesadaran, dan tanggung jawab pribadi.
Anak bisa diajak melihat puasa sebagai latihan lengkap, menahan lapar, mengatur perasaan, menjaga pikiran, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Puasa juga membantu tubuh tetap sehat dan membiasakan kebiasaan baik.
Pendampingan orang tua
Mariska menyarankan orang tua menggunakan strategi konkret, seperti menonton video atau film edukatif tentang Ramadan yang sesuai usia. Setelah itu, berdiskusi dengan anak melalui pertanyaan terbuka untuk memahami apa yang mereka tangkap dan bagaimana menerapkannya dalam keseharian.
Anak juga dapat mengikuti kegiatan keagamaan ramah anak seperti dongeng Islami, kajian anak di masjid, atau kajian keluarga. Orang tua tetap mendampingi agar pesan tersampaikan dengan mudah.
Orang tua bisa mengalihkan fokus anak dari rasa lapar dengan kegiatan bermakna, misalnya salat bersama, berbuat kebaikan, membantu orang lain, atau menyisihkan uang untuk sedekah. Dengan begitu, anak belajar bahwa puasa bukan sekadar menahan diri, tapi juga mengisi waktu dengan nilai spiritual dan kebiasaan sehat.
Reward sebagai Motivasi
Reward masih bisa digunakan sebagai strategi perkembangan anak. Untuk prasekolah, hadiah konkret seperti stiker atau chart membantu memperkuat usaha anak menahan lapar atau ikut sahur.
Untuk usia sekolah awal, reward difokuskan pada perilaku positif seperti bersabar, beribadah, atau berbagi. Sedangkan untuk anak usia sekolah akhir hingga remaja awal, reward fisik sebaiknya dikurangi, diganti dengan apresiasi verbal, refleksi, dan rasa bangga terhadap diri sendiri.
“Anak sudah lebih mampu merefleksikan pengalaman dan memahami makna ibadah,” kata Mariska.
Orang tua disarankan menggunakan pendekatan fading, yaitu pengurangan reward bertahap agar anak beralih dari motivasi eksternal ke motivasi intrinsik. Dengan cara ini, anak bisa merasakan kepuasan batin, makna spiritual, dan manfaat kesehatan dari puasa.
Dengan bimbingan yang tepat, Ramadan bisa menjadi pengalaman aman, hangat, dan mendidik bagi anak. Mereka tidak hanya belajar menahan lapar, tapi juga memahami nilai, ibadah, dan kebiasaan yang menyehatkan tubuh dan jiwa.
Copyright © KABARIN 2026